Paracetamol atau yang juga dikenal dengan asetaminofen adalah obat penghilang rasa sakit yang populer di seluruh dunia karena sangat aman dan tidak mengganggu pencernaan atau iritasi lambung. Paracetamol sering digunakan untuk meringankan rasa nyeri (analgesik), mengurangi demam serta sakit kepala (antipiretik), serta dapat mengurangi gejal flu dan pilek, sakit gigi, neuralgia, migrain dan sakit punggung.

Menurut penelitian di University of Essex, paracetamol juga dapat digunakan untuk mengurangi resiko gagal ginjal setelah mengalami cedera otot yang parah.Akan tetapi, obat jenis ini tidak berguna untuk mengurangi peradangan atau pembengkakan pada kulit dan sendi, karena tidak memiliki sifat anti-inflamasi seperti pada aspirin. Walaupun paracetamol aman dikonsumsi oleh setiap orang (aman bagi wanita yang sedang hamil), obat ini juga memiliki efek samping berbahaya jika digunakan dalam keadaan tertentu.

Apabila dikonsumsi bersamaan dengan alkohol serta digunakan secara berlebihan, paracetamol akan mengakibatkan kerusakan pada hati serta resiko komplikasi penecernaan seperti pendarahan lambung. Akan tetapi, ada pendapat lain yang menyatakan bahwa paracetamol tidak dapat menyebabkan kerusakan hati walaupun digunakan bersamaan dengan alkohol serta dikonsumsi dalam jangka waktu panjang.

Tidak seperti aspirin, paracetamol aman dikonsumsi oleh anak-anak karena tidak dapat menyebabkan Reye’s syndrom pada anak. Reye’s syndome adalah penyakit fatal yang dapat menyebabkan kerusakan pada banyak organ di dalam tubuh, terutama otak dan hati, serta dapat menyebabkan hipoglikemia. Apakah paracetamol berbahaya jika digunakan dalam jangka panjang?

Pada bulan Juni 2009, sebuah komite penasihat FDA merekomendasikan bahwa penggunaan paracetamol harus dibatasi untuk membantu melindungi pasien dari efek racun potensial dari obat ini. Namun, hingga bulan Maret 2010, FDA belum mengimplementasikan rekomendasi ini. Berikut alasan pembatasan penggunaan paracetamol yang pernah diajukan oleh FDA: -

Penggunaan dosis tinggi (lebih dari 2.000 mg per hari) dari paracetamol dapat meningkatkan resiko komplikasi gastrointestinal bagian atas seperti pendarahan perut atau lambung. – Sebuah studi menunjukan bahwa pada tahun 2008, penggunaan jangka panjang pada anak-anak (usia 6 sampai 8 tahun) saat demam, dapat menimbulkan efek samping berupa peningkatan gejala asma, rhinoconjunctivitis (peradangan pada mata) serta eksim. -

Penggunaan yang berlebihan akan menyebabkan kerusakkan hati dan ginjal, dimana toksisitas berasal dari salah satu metabolitnya, yaitu N-Asetil-P-Benzoquinoneimine (NAPQI). – Salah satu dari efek samping yang paling berbahaya adalah hepatotoksisitas, yang mana merupakan penyebab paling umum dari gagal hati akut. – Kebiasaan penggunaan paracetamol untuk mengurangi rasa sakit pada seseorang, akan membuat tingkat ketahanan seseorang untuk merespon rasa sakir berkurang.

Dosis umum untuk orang dewasa adalah 500 mg sampai 1000mg setiap empat jam serta dikonsumsi tidak lebih dari 10 hari. Anda tidak boleh mengkonsumsi obat ini lebih dari delapan tablet atau kapsul dalam sehari. Seperti obat-obatan lainnya, paracetamol tidak harus digunakan dalam jangka panjang kecuali di bawah pengawasan dokter.

2 Responses to “Paracetamol: Apakah itu?”

Leave a Reply